SKRIPSI
BRAM SETYO LEKSONO
PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN TANPA RESEP
DI APOTEK WILAYAH SURABAYA
DENGAN KASUS DIARE PADA LANJUT USIA
![]() |
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
AIRLANGGA
DEPARTEMEN FARMASI KOMUNITAS
SURABAYA
2011
LEMBAR PENGESAHAN
PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN TANPA RESEP
DI APOTEK WILAYAH SURABAYA
DENGAN KASUS DIARE PADA LANJUT USIA
SKRIPSI
Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Farmasi
Pada Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Surabaya
2011
Oleh
BRAM SETYO LEKSONO
050710091
Skripsi Telah
Disetujui Oleh:
Pembimbing Utama Pembimbing
Serta
Hanni P. Puspitasari,SSi.Apt.,M.Phil. Dra. Ekarina R.
Himawati,Apt.,M.Kes
NIP.197905122002122001 NIP.196101081987012001
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, saya
panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya yang tiada
henti, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN TANPA RESEP DI APOTEK WILAYAH SURABAYA
DENGAN KASUS DIARE PADA LANJUT USIA dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu saya ingin
menyampaikan terima kasih kepada :
1.
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Dr. Hj. Umi
Athijah, Apt., M.S. yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk
menggunakan sarana dan prasarana yang diperlukan selama penelitian.
2.
Ibu Hanni P. Puspitasari, S.Si., Apt., M.Phil. selaku dosen
pembimbing utama yang dengan penuh kesabaran membimbing, memberikan masukan
kepada saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3.
Ibu Dra. Ekarina Ratna Himawati, Apt., M.Kes. dan Ibu Anila
Impian Sukorini, S.Si., Apt. selaku dosen pembimbing serta yang dengan penuh
kesabaran membimbing, memberikan masukan kepada saya sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
4.
Ibu Yunita Nita, S.Si., Apt., M.Pharm. dan Ibu Azza Faturrohmah,
S.Si., Apt., M.Si. selaku dosen penguji yang telah berkenan memberikan saran
dan kritik untuk perbaikan skripsi ini.
5.
Ibu Dra. Rakhmawati, Apt., M.Si. selaku dosen wali yang telah
membimbing dan memberikan nasehat kepada saya selama studi di Fakultas Farmasi
Universitas Airlangga.
6.
Bapak dan Ibu Dosen dan staf Departemen Farmasi Komunitas
yang telah memberikan masukan dan bantuan kepada saya sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan.
7.
Para Dosen pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
yang telah mengantarkan saya dalam menyelesaikan studi di Fakultas Farmasi ini.
8.
Bapak Daryatmo dan Ibu Sumartini selaku kedua orang tua saya
dan segenap keluarga di Ponorogo, terima kasih atas doa, dukungan, pengorbanan,
kesabaran, dan rasa sayangnya sehingga sampai saat ini saya dapat menyelesaikan
pendidikan sampai perguruan tinggi.
9.
Kawan-kawanku semua: Kawanku yang di Ponorogo, Surabaya, dan
dimanapun tempatnya yang telah memberikan arti kehidupan, motivasi, dan selalu
bersama dalam suka dan duka. Hidup ini tidak akan berarti tanpa kalian semua.
10.
Seluruh keluarga besar Fakultas Farmasi Universitas
Airlangga.
Saya menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dalam tulisan ini, saran dan kritik yang bersifat membangun
akan sangat membantu. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Surabaya,
21 Februari 2011
Penyusun
Ringkasan
Salah satu gejala yang sering menyerang masyarakat
Indonesia adalah diare. Diare dapat dilakukan pengobatan sendiri tanpa resep
dari dokter. Diare pada pasien lanjut usia memerlukan perhatian dan penanganan
khusus terkait besarnya prevalensi terjadinya dehidrasi. Pada pasien diare
lanjut usia perlu penanganan khusus dalam pemberian obat maupun terapi non
obat, sehingga diharapkan petugas apotek melakukan patient assessment, memberikan rekomendasi, dan menyampaikan informasi
yang tepat. Ada banyak obat diare yang dapat dibeli tanpa resep di apotek.
Selama melakukan pelayanan kefarmasian, petugas apotek sebaiknya menggali
dahulu informasi dari pasien (patient
assessment) sebelum dilakukan rekomendasi dan informasi terkait obat dan
non obat.
Penelitian ini menggunakan
metode simulasi pasien. Pengamatan dilakukan di 90 apotek wilayah Surabaya yang
terpilih secara acak. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengamat
yang berskenario, mengamati pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh petugas
apotek. Data yang didapat berupa variabel patient
assessment, rekomendasi, informasi obat dan non obat. Dalam pengamatan
tersebut dilakukan pencatatan dalam check list dan pengolahan data dilakukan
dengan SPSS.
Sebanyak 54% apotek di
wilayah Surabaya melakukan patient
assessment dalam memberikan pelayanan kefarmasian pada kasus diare lanjut
usia. Dari data yang diperoleh terlihat sebanyak 33,3% apotek melakukan patient assessment terkait siapa yang
sakit diare. Semua apotek memberikan rekomendasi berupa pemberian obat dan
kebanyakan golongan obat yang direkomendasikan oleh petugas apotek adalah obat
keras. Obat yang paling banyak diberikan
berdasarkan mekanisme kerja adalah anti motilitas sebanyak 43 buah (48%)
disusul dengan adsorben sebanyak 38 buah (43%). Sebesar 92% apotek
memberikan informasi obat sebagai tindak lanjut dari pemilihan obat. Apotek
yang memberikan informasi obat berupa dosis sebesar 84,4% dan informasi non
obat berupa pemberian cairan elektrolit sebesar 5,6%. Sebagian besar informasi
tentang dosis diberikan setelah diajukan pertanyaan pancingan.
Dari penelitian ini dapat
diketahui bahwa pelayanan kefarmasian tanpa resep di apotek wilayah Surabaya
masih perlu peningkatan profesionalisme pelayanan. Sehingga perlu adanya andil
dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan juga dari kesadaran peningkatan
kualitas pelayanan dari pihak apotek itu sendiri.
PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN TANPA RESEP DI APOTEK WILAYAH
SURABAYA DENGAN KASUS DIARE PADA LANJUT USIA
Abstract
Diarrhea is a symptom that often attacks people of Indonesia. Diarrhea can
be relieved without prescription medicines. Diarrhea in elderly patients
requires considerable attention and treatments related to the prevalence of
dehydration. There are many diarrhea medicines that can be bought without a
prescription at pharmacies. During the service of pharmacy, the pharmacist
should assess the patients prior to giving recommendations and provide medicine
and non medicine information.
This study used a patient simulation method. Observations were made at 90
randomly selected pharmacies in Surabaya. The researcher acted as observer for
pharmacy services performed by pharmacy staff. The observations were recorded
in check lists, then data were analysed using SPSS version 11.5.
A total of 30 pharmacy staff (33,3%) assessed their patients who request
anti diarrhea medicines. More than 50% of medicines recommended were
prescription only-medicines. Types of information mustly given related to medicines
and non-medicines were dosing (84,4%) & taking oral rehidration solution
(5,6%), respectively.
In general, the pharmaceutical service without a prescription in Surabaya
pharmacies for diarrhea cases in the elderly is still far below the standards
of pharmaceutical care.
Keywords
Diarrhea, elderly, non-prescription, pharmaceutical service, Surabaya
pharmacies.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. .............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
KATA PENGANTAR............................................................................................ iii
RINGKASAN.......................................................................................................... v
ABSTRAK............................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................... xiii
BAB I . PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3
1.3. Tujuan
Penelitian ................................................................................................ 3
1.4.
Manfaat Penelitian.............................................................................................. 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 5
2.1. Tinjauan Tentang Apoteker dan Tenaga Kefarmasian ....................................... 5
2.2. Tinjauan Tentang Apotek dan Pharmaceutical Care ........................................ 5
2.3. Tinjauan Tentang Pelayanan Obat Tanpa Resep................................................. 6
2.3.1. Definisi Pelayanan Obat Tanpa Resep..................................................... 6
2.3.2. Tahapan Pelayanan Obat Tanpa Resep..................................................... 6
2.3.2.1. Patient Assessment......................................................................... 6
2.3.2.2. Rekomendasi................................................................................. 7
2.3.2.3. Informasi Obat
dan Non Obat...................................................... 7
2.4. Tinjauan Tentang Diare....................................................................................... 9
2.4.1. Definisi Diare............................................................................................ 9
2.4.2. Diare Akut dan Diare Kronik................................................................... 9
2.4.3. Penyebab Diare......................................................................................... 10
2.4.4. Klasifikasi Diare........................................................................................ 11
2.4.5. Kondisi Pasien Diare Yang Perlu Dirujuk................................................ 12
2.4.6. Terapi
Farmakologi................................................................................... 12
2.4.6.1. Adsorben........................................................................................ 12
2.4.6.2. Anti
peristaltik/anti motilitas.......................................................... 12
2.4.6.3. Anti secretory................................................................................. 13
2.4.6.4.
Probiotik......................................................................................... 13
2.4.6.5. Anti
infeksi..................................................................................... 13
2.4.7.
Terapi Non Farmakologi........................................................................... 14
2.4.7.1. Cairan
dan elektrolit........................................................................ 14
2.4.7.2.
Pengubahan pola makan.................................................................. 14
2.5. Tinjauan
Tentang Lanjut Usia............................................................................. 15
2.6. Tinjauan
Tentang Obat........................................................................................ 15
2.6.1. Definisi
Obat............................................................................................ 15
2.6.2.
Penggolongan Obat.................................................................................. 15
2.7. Tinjauan Tentang Metode Simulasi Pasien......................................................... 16
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL .............................................................. 18
BAB IV METODE PENELITIAN........................................................................ 19
4.1. Jenis Penelitian ................................................................................................... 19
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.............................................................................. 19
4.3. Populasi
Penelitian.............................................................................................. 19
4.4. Sampel Penelitian................................................................................................ 19
4.4.1. Kriteria
Inklusi dan Eksklusi .................................................................... 20
4.4.2. Besar Sampel............................................................................................ 20
4.4.3. Teknik Sampling....................................................................................... 20
4.5. Sumber Data
...................................................................................................... 21
4.6. Variabel
Penelitian.............................................................................................. 21
4.7. Instrumen............................................................................................................ 22
4.7.1. Skenario.................................................................................................... 22
4.7.2. Check list.................................................................................................. 24
4.8. Definisi Operasional ........................................................................................... 24
4.9. Validitas dan Reliabilitas Instrumen .................................................................. 26
4.9.1. Uji Validitas.............................................................................................. 26
4.9.2. Uji Reliabilitas........................................................................................... 28
4.10. Metode Pengumpulan Data.............................................................................. 28
4.10.1. Kerangka Operasional
Penelitian............................................................ 29
4.10.2. Kerangka Operasional
Pengumpulan Data............................................. 30
4.11. Teknik Analisa Data ......................................................................................... 30
BAB V HASIL PENELITIAN............................................................................... 32
5.1. Patient Assessment.............................................................................................. 32
5.2. Rekomendasi....................................................................................................... 33
5.3. Informasi
Obat.................................................................................................... 37
5.4. Informasi
Non Obat............................................................................................ 39
BAB VI PEMBAHASAN....................................................................................... 40
6.1. Patient Assessment.............................................................................................. 40
6.2. Rekomendasi....................................................................................................... 42
6.3. Informasi
Obat.................................................................................................... 43
6.4. Informasi
Non Obat............................................................................................ 45
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 47
7.1. Kesimpulan......................................................................................................... 47
7.2. Saran................................................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 49
LAMPIRAN ............................................................................................................ 51
DAFTAR TABEL
Tabel IV.1. Variabel Penelitian................................................................................ .21
Tabel V.1. Distribusi Komponen Patient Assessment yang
Ditanyakan oleh Petugas Apotek………………………................................................................ . 33
Tabel V.2. Jenis Rekomendasi yang Diberikan........................................................ 33
Tabel V.3. Rentang Harga Obat yang
Direkomendasikan…………………………. 33
Tabel V.4. Jenis Obat yang
Direkomendasikan……………………………………. 34
Tabel V.5. Jenis Obat yang Direkomendasikan
Berdasarkan Penamaan………….. 36
Tabel V.6. Golongan Obat yang
Direkomendasikan………………………………. 36
Tabel V.7. Distribusi Informasi Obat yang Diberikan
oleh Petugas Apotek……... 37
Tabel V.8. Distribusi Pemberian Keterangan Informasi
Dosis oleh Petugas Apotek
…………………………………………………………………………. 38
Tabel V.9. Distribusi Informasi Non Obat yang
Diberikan oleh Petugas Apotek
…………………………………………………………………………. 39
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian............................................................ 18
Gambar 4.1 Kerangka Operasional Penelitian........................................................... 29
Gambar 4.2 Kerangka Operasional Pengumpulan Data............................................. 30
Gambar 5.1 Persentase Apotek Sampel Terkait Patient Assessment.......................... 32
Gambar 5.2 Mekanisme Kerja Obat yang Direkomendasikan................................... 36
Gambar 5.3 Persentase Apotek Sampel Terkait Pemberian
Informasi Obat.............. 37
Gambar 5.4 Persentase Apotek Sampel Terkait Pemberian
Informasi Non Obat...... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Lembar Check
List…………………………………………………………. 51
Lampiran
2. Daftar Apotek Sampel………………………………………………... 54
....................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pembangunan
kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud. Makna pembangunan kesehatan dipertegas dalam
rangka pemenuhan hak asasi manusia, memperjelas penyelenggaraan pembangunan
kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang
Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025 salah satunya adalah melaksanakan pemerataan
upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Upaya kesehatan yang bermutu
diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit.
Pembinaan upaya
kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Pelayanan
kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas, terjamin keamanannya bagi penerima
dan pemberi upaya, dapat diterima masyarakat, efektif, dan sesuai, serta mampu
menghadapi tantangan globalisasi. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah
pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin
penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan secara rasional, aman, dan
bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma, standar,
prosedur, dan kriteria yang ditetapkan (Depkes RI, 2009).
Pelayanan
kefarmasian merupakan salah satu kunci pokok suksesnya sistem kesehatan. Pelayanan
kefarmasian saat ini telah berpindah orientasinya, yang semula berorientasi
pada produk obat bergeser orientasi ke pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical care (Depkes RI, 2004). Pharmaceutical care (asuhan
kefarmasian) sangat penting dalam menciptakan dan meningkatkan profesionalisme pelayanan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian tidak hanya berorientasi ke produk obat,
namun juga pelayanan informasi terkait obat juga harus tersampaikan supaya
masyarakat paham bagaimana menggunakan obat sesuai aturan dan tata cara yang
tepat sehingga obat bisa mencapai efek terapi secara optimal.
Salah satu
sarana pelayanan kefarmasian di masyarakat adalah apotek. Apotek adalah sarana
pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Dalam
menjalani pekerjaan kefarmasian, apoteker dibantu oleh tenaga teknis
kefarmasian yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker (Pemerintah RI, 2009). Pelayanan
kefarmasian di apotek mencakup pelayanan resep dan tanpa resep.
Pelayanan tanpa
resep/swamedikasi yaitu pelayanan terhadap pasien atau klien yang datang dengan
keluhan gejala yang timbul atau dengan meminta suatu produk obat tertentu tanpa
resep dari dokter. Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri
sendiri dengan obat-obatan yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas
inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter (Indriyanti, 2009). Keuntungan
swamedikasi antara lain efisien waktu karena pasien tidak perlu pergi ke dokter
terlebih dahulu dan juga pasien dapat langsung memilih obat yang sesuai dengan
yang diharapkan. Kerugiannya, jika klien datang langsung ke apotek dengan
meminta suatu produk tertentu, kemungkinan bisa terjadi kesalahan terapi.
Pemberian informasi
pada pelayanan resep maupun tanpa resep merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pelayanan di apotek. Dalam penyampaian informasi tersebut, petugas apotek harus
bisa memberikan informasi kepada klien dengan memperhatikan dengan siapa
petugas apotek berinteraksi, sehingga nantinya informasi tersebut dapat
diterima oleh klien secara mudah (menggunakan bahasa orang awam). Sebelum
memberikan rekomendasi maupun informasi ke klien, sebaiknya petugas apotek
menggali dahulu informasi tentang pasien supaya penyampaian informasi dapat
tepat sasaran dan tidak terjadi salah paham atau salah keputusan. Informasi
yang diberikan petugas apotek ke klien itu tidak selalu informasi tentang obat, dapat juga petugas
apotek memberikan informasi non obat dan juga bisa memberikan suatu rujukan
(Chua, 2006). Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh
apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. Apoteker harus memberikan
informasi yang benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis,
bijaksana, dan terkini (Depkes RI, 2006).
Dalam penelitian ini, dilakukan pengamatan pelayanan kefarmasian
tanpa resep dengan kasus diare pada lanjut usia di apotek wilayah Surabaya.
Pertimbangannya adalah diare merupakan keluhan yang sudah sering kali terjadi
pada masyarakat Indonesia. Diare merupakan penyebab kematian urutan ke-13 di
Indonesia menurut data tahun 2007 (Depkes RI, 2009). Sedangkan digunakan
simulasi pasien lanjut usia karena pada orang yang sudah lanjut usia kemampuan
jaringan tubuh untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya akan perlahan-lahan menurun sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Wijayanti, 2008). Oleh karena
itu, pada pasien diare lanjut usia perlu penanganan khusus dalam pemberian obat
maupun terapi non obat, sehingga diharapkan peneliti mendapatkan patient assessment, rekomendasi, dan
informasi yang spesifik dari petugas apotek.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana profil patient
assessment yang dilakukan oleh petugas apotek terhadap pasien diare pada
lanjut usia ?
2. Bagaimana profil rekomendasi yang diberikan oleh petugas apotek
terhadap pasien diare pada lanjut usia ?
3. Bagaimana profil informasi terkait obat dan non obat yang diberikan
oleh petugas apotek terhadap pasien diare pada lanjut usia ?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui profil patient
assessment yang dilakukan petugas apotek terhadap klien yang datang dengan
keluhan diare pada lanjut usia.
2. Mengetahui profil rekomendasi yang diberikan oleh petugas apotek
terhadap klien yang datang dengan keluhan diare pada lanjut usia.
3. Mengetahui profil informasi terkait obat dan non obat yang diberikan
oleh petugas apotek terhadap klien yang datang dengan keluhan diare pada lanjut usia.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Memberikan masukan kepada
apoteker agar bisa meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di apotek,
khususnya pelayanan kefarmasian tanpa resep.
2. Hasil data dari penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti lain
sebagai bahan referensi untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut
terutama pelayanan kefarmasian tanpa resep.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Tentang Apoteker dan Tenaga
Kefarmasian
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan
telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker (Depkes
RI, 2004). Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan
pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
Sedangkan yang dimaksud tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu
apoteker dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker (Pemerintah RI, 2009).
2.2. Tinjauan Tentang Apotek dan Pharmaceutical Care
Apotek
adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh
apoteker (Pemerintah RI, 2009). Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku
apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang professional (Depkes RI,
2006). Dalam melakukan profesinya, apoteker mengacu pada Pharmaceutical care. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, Pharmaceutical
care adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker
dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Berdasarkan filosofi Pharmaceutical care,
apoteker memiliki tanggung jawab antara lain (Cipolle, 1998) :
- Menjamin terapi obat pada pasien indikasinya sudah tepat, efektif, dan aman.
- Mengidentifikasi, menyelesaikan, dan mencegah masalah terapi obat.
- Menjamin tercapainya tujuan terapi dan hasil yang optimal pada pasien.
2.3. Tinjauan Tentang Pelayanan Obat Tanpa
Resep
2.3.1. Definisi Pelayanan Obat Tanpa Resep
Pelayanan obat tanpa resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin
melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi (Purwanti, 2004). Swamedikasi
adalah mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang
dibeli bebas di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa nasehat
dokter (Indriyanti, 2009). Dengan kata lain, pasien datang dengan keluhan
gejala atau meminta suatu produk tanpa resep dari dokter.
Obat-obat yang dapat digunakan untuk swamedikasi/tanpa resep meliputi
obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT), dan obat bebas (OB)
(Purwanti, 2004).
2.3.2 Tahapan Pelayanan Obat Tanpa Resep
Tahapan pelayanan obat tanpa resep meliputi patient assessment, penentuan rekomendasi, dan pemberian informasi
obat maupun non obat.
2.3.2.1. Patient Assessment
Patient assessment penting
untuk pertimbangan apoteker dalam penentuan identifikasi pasien sebelum membuat
sebuah rekomendasi. Kemungkinan pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh apoteker
diidentifikasi berdasarkan pada WWHAM (Who
the patient, What are the symptos, How long have the symptoms been present,
Action taken, Medication being taken), ASMETHOD (Age/appearance, Self/someone else, Medication, Extra medication, Time
symptoms, History, Other accompanying symptoms, Danger symptoms),
SITDOWNSIR (Site/location,
Intensity/severity, Tipe/nature, Duration, Onset, With other symptoms, Annoyed
by, Spread/radiation, Incidence, Relieved by), ENCORE (Explore, No medication option, Care, Observe, Refer, Explain) (Blenkinsopp,
2002). Patient assessment dalam
penelitian ini merujuk ke tipe WWHAM.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan tindakan oleh
apoteker selama konseling yang dijadikan referensi untuk rekomendasi adalah sejarah
pengobatan, obat untuk siapa, umur pasien, penyebab sakit, durasi sakit, lokasi
sakit, gejala sakit, pengobatan lain yang sedang digunakan, obat sejenis
lainnya yang digunakan, alergi obat, apakah pernah terjadi sakit seperti
sebelumnya, gejala lain, dan apakah sudah ke dokter (Chua, 2006).
2.3.2.2. Rekomendasi
Apoteker bisa merekomendasikan suatu obat untuk meringankan gejala
sakitnya dengan mencoba menentukan penyebab sakitnya sehingga dapat mencegah
terjadinya sakit kembali dan juga bisa menyarankan pada perubahan pola hidup/non
farmakologi yang penting dalam mengatasi sakitnya. Apoteker menyarankan pasien
pergi ke dokter jika pasien tersebut kondisinya berat atau parah (Chua, 2006).
Pada kasus diare, rujukan ke dokter diperlukan jika (Dipiro, 2008):
- Nyeri perut yang hebat dan kram.
- Feses berdarah.
- Dehidrasi (haus, mulut kering, lemas, urin berwarna pekat, jarang kencing, penurunan jumlah urin, kulit kering, nadi yang cepat, nafas cepat, kram otot, otot lemah).
- Demam tinggi (lebih dari 38°C)
- Penurunan berat badan lebih dari 5 % dari total berat badan.
- Bila diare lebih dari 48 jam.
2.3.2.3. Informasi Obat & Non Obat
a. Informasi Obat
Pemberian informasi adalah untuk mendukung penggunaan obat yang benar dan
rasional, monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhir serta
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan/medication
error (Pemerintah RI, 2009). Informasi yang perlu disampaikan oleh apoteker
pada masyarakat dalam penggunaan obat bebas atau obat bebas terbatas antara
lain (Depkes RI, 2006) :
- Khasiat obat: apoteker perlu menerangkan dengan jelas apa khasiat obat yang bersangkutan, sesuai atau tidak dengan indikasi atau gangguan kesehatan yang dialami pasien.
- Kontraindikasi: pasien juga perlu diberi tahu dengan jelas kontraindikasi dari obat yang diberikan, agar tidak menggunakannya jika memiliki kontraindikasi dimaksud.
- Efek samping dan cara mengatasinya (jika ada): pasien juga perlu diberi informasi tentang efek samping yang mungkin muncul, serta apa yang harus dilakukan untuk menghindari atau mengatasinya.
- Cara pemakaian: cara pemakaian harus disampaikan secara jelas kepada pasien untuk menghindari salah pemakaian, apakah ditelan, dihirup, dioleskan, dimasukkan melalui anus, atau cara lain.
- Dosis: sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, apoteker dapat menyarankan dosis sesuai dengan yang disarankan oleh produsen (sebagaimana petunjuk pemakaian yang tertera di etiket) atau dapat menyarankan dosis lain sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
- Waktu pemakaian: waktu pemakaian juga harus diinformasikan dengan jelas kepada pasien, misalnya sebelum atau sesudah makan atau saat akan tidur.
- Lama penggunaan: lama penggunaan obat juga harus diinformasikan kepada pasien, agar pasien tidak menggunakan obat secara berkepanjangan karena penyakitnya belum hilang, padahal sudah memerlukan pertolongan dokter.
- Hal yang harus diperhatikan sewaktu minum obat tersebut, misalnya pantangan makanan atau tidak boleh minum obat tertentu dalam waktu bersamaan.
- Hal apa yang harus dilakukan jika lupa memakai obat.
- Cara penyimpanan obat yang baik.
- Cara memperlakukan obat yang masih tersisa.
- Cara membedakan obat yang masih baik dan sudah rusak.
b. Informasi Non Obat
Informasi non obat yang perlu disampaikan apoteker kepada pasien diare
antara lain (Depkes, 2006) :
- Minum banyak cairan (air, sari buah, sup bening). Hindari alcohol, kopi/teh, dan susu.
- Hindari makanan padat atau makanlah makanan yang tidak berasa (bubur, roti, pisang) selama 1-2 hari.
- Minum cairan rehidrasi oral-oralit/larutan gula garam.
- Cucilah tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan (diare karena infeksi bakteri/virus bisa menular).
- Tutuplah makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat, kecoa, dan tikus.
- Simpanlah secara terpisah makanan mentah dan yang matang, simpanlah sisa makanan di dalam kulkas.
- Gunakan air bersih untuk memasak.
- Air minum harus direbus terlebih dahulu.
- Buang air besar pada jamban.
- Jaga kebersihan lingkungan.
- Bila diare berlanjut lebih dari dua hari, bila terjadi dehidrasi, kotoran berdarah, atau terus-menerus kejang perut periksakan ke dokter.
2.4. Tinjauan Tentang Diare
2.4.1. Definisi Diare
Diare dapat didefinisikan sebagai perubahan konsistensi feses selain dari
frekuensi buang air besar. Dikatakan diare bila feses lebih berair dari
biasanya. Diare dapat juga didefinisikan bila buang air besar 3 kali atau
lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam
(Depkes RI, 2009). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam
golongan 6 besar yaitu karena infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan,
imunodefisiensi dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan dilapangan/klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan (Depkes RI, 2002).
2.4.2. Diare Akut dan Diare Kronik
Diare dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut
adalah diare yang terjadi selama 14 hari atau kurang. Gejala dan tanda-tanda
diare akut adalah konsistensi encer dan berair yang menyerang secara mendadak,
nyeri perut, keadaan mendesak ingin buang air besar, mual, perut kembung, dan
demam. Pasien dengan infeksi diare akut bisa terjadi buang air besar berdarah dan
nyeri perut. Sedangkan diare kronik adalah diare yang terjadi lebih dari 30
hari. Diare kronik mempunyai tanda-tanda dan gejala yaitu gejala bisa hebat
atau ringan, penurunan berat badan dapat dilihat dan tubuh terasa lemas.
Dehidrasi bisa diketahui dari penurunan jumlah urin, urin pekat, membran mukus
yang kering, cepat haus, dan takikardi (Dipiro, 2008).
2.4.3. Penyebab Diare
Ada banyak kemungkinan penyebab diare
akut, tetapi infeksi adalah penyebab yang paling umum. Infeksi diare terjadi
karena kontaminasi makanan dan air. Virus adalah penyebab yang paling besar,
yaitu rotavirus, norwalk, dan adenovirus. Pasien secara tiba-tiba
demam, muntah, dan feses yang berair. Bakteri juga merupakan salah satu infeksi
diare yaitu Escherichia coli, Salmonella sp., Shigella sp., Vibrio cholera,
dan Clostridium difficile. Protozoa
juga merupakan salah satu infeksi diare seperti Entamoeba histolytica, Microsporidium, Giardia lamblia, dan Cryptosporidium parvum. Penyebab selain
infeksi dari diare akut terdiri dari obat dan racun, efek samping laksatif,
makanan, irritable bowel syndrome,
radang perut, kekurangan laktase, Whipple’s
disease, anemia, diabetes mellitus,
malabsorbsi, fecal impaction, diverticulosis, dan celiac sprue. Obat-obat yang dapat menyebabkan diare akut adalah
antibiotik, kolsikin, digitalis, hidralazin, laksatif, mannitol, metformin,
misoprostol, quinidin, sorbitol, dan teofilin. Suplemen makanan yang bisa
menyebabkan diare akut yaitu Echinacea,
ginseng, dan aloe vera. Bahan (racun)
yang menyebabkan diare adalah arsen, cadmium, dan merkuri (Dipiro, 2008).
Obat-obat yang dapat menyebabkan diare
dapat terjadi oleh beberapa mekanisme. Pertama, air dapat masuk ke dalam lumen
usus secara osmotik. Saline laxatives
adalah contoh obat yang dapat meningkatkan masuknya air ke dalam lumen usus
secara osmotik. Kedua, ekosistem bakteri usus dapat mengganggu yaitu munculnya
serangan organisme sehingga memicu proses sekresi dan peradangan. Aktivitas
beberapa antibiotik dapat menyebabkan mekanisme ini. Ketiga adalah perubahan
motilitas bisa terjadi dengan tegaserod
maleat. Obat lain seperti prokainamid atau kolsikin menyebabkan diare yang
mekanismenya belum diketahui (Dipiro, 2008)
Kebanyakan kasus diare kronik disebabkan
dari radang perut, gangguan endokrin, malabsorbsi, dan obat-obatan (laksatif).
Dalam diare kronik, buang air besar dengan konsistensi berair tidak terjadi.
Diare bisa terjadi sebentar atau terus-menerus (Dipiro, 2008).
2.4.4. Klasifikasi
Diare
Selama proses normal, kira-kira sembilan
liter cairan melewati gastrointestinal dalam sehari. Cairan perut dua liter,
saliva satu liter, cairan empedu satu liter, cairan pankreas dua liter, sekresi
intestinal satu liter, dan cairan pencernaan dua liter. Dari sembilan liter
cairan tersebut, hanya sekitar 150-200 mL yang tersisa setelah proses
reabsorbsi terjadi (Dipiro, 2008).
Terjadinya peningkatan jumlah cairan dalam
feses menyebabkan diare. Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme patofisiologi
yang mencakup osmotik, sekresi, inflamasi, dan perubahan motilitas (Dipiro,
2008).
Diare osmotik akibat dari tidak diabsorbsinya
cairan di dalam usus ke dalam penyimpanan cairan. Biasanya kasus terjadi karena
gangguan laktose dan proses pencernaan dari antasida yang berisi magnesium
(Dipiro, 2008).
Diare secretory akibat peningkatan sekresi ion ke dalam lumen usus
sehingga menaikkan cairan intraluminal. Obat, hormon, dan racun bertanggung
jawab selama terjadi aktivitas sekresi (Dipiro, 2008).
Diare inflamasi akibat dari perubahan
mukosa usus yang mengganggu proses absorbsi dan terjadi peningkatan protein dan
produk lain di dalam lumen usus dalam penyimpanan cairan. Adanya pendarahan
atau adanya leukosit di dalam feses mengindikasikan proses peradangan. Diare
dari radang perut (contohnya ulcerative
colitis) adalah radang secara alami (Dipiro, 2008).
Peningkatan motilitas diakibatkan
penurunan kontak antara makanan dan minuman dengan mukosa intestinal,
menyebabkan penurunan reabsorbsi dan peningkatan cairan feses. Irritable Bowel Syndrome menyebabkan
perubahan motilitas (Dipiro, 2008).
2.4.5. Kondisi
Pasien Diare Yang Perlu Dirujuk
Pasien sebaiknya dirujuk ke dokter bila
keadaannya (Dipiro, 2008):
Nyeri perut yang hebat dan kram.
- Feses berdarah.
- Dehidrasi (haus, mulut kering, lemas, urin berwarna pekat, jarang kencing, penurunan jumlah urin, kulit kering, nadi yang cepat, nafas cepat, kram otot, otot lemah).
- Demam tinggi (lebih dari 38°C)
- Penurunan berat badan lebih dari 5 % dari total berat badan.
- Bila diare lebih dari 48 jam.
2.4.6. Terapi
Farmakologi
Menurut Dipiro (2008), terapi
farmakologi pada diare terdiri dari adsorben, anti peristaltik/anti motilitas,
anti secretory, probiotik, dan anti
infeksi.
2.4.6.1. Adsorben
Attapulgit mengadsorbsi cairan dalam
feses. Kalsium polikarbofil adalah sebuah resin hidrofilik poliakrilat yang
juga bekerja sebagai adsorben, mengikat air sekitar 60 kali beratnya dan
membentuk gel yang memperkeras bentuk feses. Kedua produk efektif dalam
menurunkan cairan feses tetapi dapat juga mengadsorbsi nutrien dan obat lain.
Pemakaiannya sebaiknya dipisahkan dengan obat lain 2-3 jam. Psyllium dan metil selulosa juga
digunakan untuk mengurangi cairan feses (Dipiro, 2008). Contoh produk : Atagip®, Neo Entrostop®, New Diatabs®, dan lain-lain (ISFI, 2008).
2.4.6.2. Anti
peristalik/anti motilitas
Obat anti peristaltik memperpanjang
waktu transit di usus. Obat dalam kategori ini adalah loperamid HCl dan
difenoksilat HCl dengan atropin sulfat. Atropin hanya digunakan sebagai pencegahan.
Pada dosis besar, efek antikolinergik dari atropin meniadakan efek euphoria
dari difenoksilat. Loperamid dan difenoksilat efektif dalam menyembuhkan gejala
diare akut non infeksi dan aman untuk pasien diare kronik (Dipiro, 2008).
Loperamid tidak diijinkan pada penggunaan tanpa resep pada anak-anak di bawah
12 tahun (Nathan, 2002). Morfin dan kodein dapat menurunkan motilitas dari GI tract (Blenkinsopp, 2002). Contoh produk
: Antidia®, Diaramid®, Gradilex®, dan lain-lain (ISFI, 2008).
2.4.6.3. Anti secretory
Bismuth subsalisilat mempunyai efek anti
secretory dan anti mikroba dan
digunakan untuk pengobatan diare akut. Sebagian salisilat diabsorbsi di dalam
perut dan usus kecil. Karena alasan ini, bismuth subsalisilat tidak diberikan
untuk orang yang alergi dengan salisilat, contohnya aspirin. Pasien yang
memakai bismuth subsalisilat sebaiknya diinformasikan bahwa fesesnya akan
berubah menjadi hitam. Octreotid adalah anti secretory yang digunakan selama diare berat yang disebabkan oleh kemoterapi kanker, HIV,
diabetes, gangguan lambung, dan tumor gastrointestinal. Octreotid digunakan
dalam bentuk injeksi subkutan atau intravena bolus dengan dosis 500 mcg 3 kali
sehari (Dipiro, 2008). Contoh produk: New Sybarin®, Neo Adiar®,
Diaryn®, dan lain-lain
(ISFI, 2008).
2.4.6.4. Probiotik
Probiotik adalah suplemen makanan berisi
bakteri yang meningkatkan mikroflora normal dari saluran gastrointestinal.
Probiotik dapat merangsang respon imun dan menekan respon peradangan. Yogurt
dapat meringankan diare. Yogurt meningkatkan pencernaan laktose karena bakteri
yang digunakan untuk membuat yogurt memproduksi laktase dan mencerna laktose
sebelum mencapai usus besar. Lactobacillus
acidophilus dalam yogurt, keju, dan susu acidophilus meningkatkan pencernaan laktose dan mencegah/menyembuhkan
diare. Walaupun laktase bukan probiotik, tablet laktase juga digunakan untuk
mencegah diare (Dipiro, 2008).
2.4.6.5. Anti
infeksi
Kebanyakan kasus diare traveler’s berasal dari infeksi dari
enterotoksigenik (ETEC) atau enteropatogenik (EPEC) Escherichia coli. Pemilihan antibiotik yang tepat mencakup fluoroquinolon
seperti siprofloksasin dan levofloksasin. Azitromisin bisa menjadi kemungkinan
pilihan saat fluoroquinolon bersifat resisten. Penggunaan antibiotik secara
terus-menerus bisa menyebabkan resisten. Pengobatan sebaiknya mempertimbangkan
infeksi diare akut yang disebabkan bukan dari rumah sakit seperti Shigatoksin,
hasil dari Eschericia coli (STEC), Campylobacter, Salmonella, dan Shigella
menyebabkan demam yang hebat, tenesmus,
dan feses berdarah (Dipiro, 2008). Contoh produk : Dialet®, Neo
Prodiar®, dan lain-lain
(ISFI, 2008).
2.4.7. Terapi
Non Farmakologi
Menurut Dipiro (2008), terapi non farmakologi pada diare
terdiri dari pemberian cairan/elektrolit dan pengubahan pola makan.
2.4.7.1. Cairan
dan elektrolit
Penggantian cairan bukan sebuah
pengobatan untuk penyembuhan diare tetapi suatu usaha untuk menyeimbangkan
cairan tubuh. Diare yang sering dan hebat, penggantian cairan dilakukan dengan
menggunakan Oral Rehydration Solution
(ORS), yaitu campuran air, gula, dan garam. WHO memperkenalkan larutan yang
terdiri dari 75 mEq/L natrium, 75 mmol/L glukosa, 65 mEq/L klorida, 20 mEq/L
potassium, dan 10 mEq/L sitrat, yang totalnya 245 mOsm/L. Secara sederhana
dapat dibuat dari 1 liter air dicampur dengan 8 sendok teh gula dan 1 sendok
teh garam. Contoh produk di pasaran adalah Pedialyte®, Rehydralyte®, dan Ceralyte®.
Pasien dengan diare yang tidak terjadi dehidrasi mengganti cairan dengan minum jahe,
teh, jus buah, air kaldu, atau sup. Penggunaan minuman olah raga untuk
dehidrasi perlu perhatian khusus karena jumlah elektrolitnya tidak sesuai
dengan yang dibutuhkan tubuh. Diare yang hebat membutuhkan larutan parenteral
seperti larutan Ringer Laktat atau normal salin untuk mengganti cairan yang
hilang (Dipiro, 2008).
2.4.7.2. Pengubahan
pola makan
Pada pasien diare akut biasanya nafsu
makan berkurang. Makanan memberi nutrisi dan cairan yang membantu mengganti asupan
makanan yang hilang. Asupan makanan tidak cukup untuk mengganti yang hilang selama
diare. Beberapa makanan tidak tepat diberikan jika sifatnya mengiritasi saluran
gastrointestinal atau jika makanan itu adalah penyebab diare. Pasien dengan
diare kronik bisa makan seperti nasi, pisang, dan gandum (Dipiro, 2008).
2.5. Tinjauan Tentang Lanjut Usia
Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan
Lanjut Usia yang dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang telah
mencapai usia 60 tahun ke atas. Menurut Dipiro (2008), pasien lanjut usia dan bayi
(kurang dari 1 tahun) sangat beresiko mengalami dehidrasi pada saat diare. Pada orang yang sudah
lanjut usia kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya akan perlahan-lahan menurun sehingga tidak
dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi
(Wijayanti, 2008).
2.6. Tinjauan Tentang Obat
2.6.1. Definisi Obat
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk
biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia (Pemerintah RI,
2009).
2.6.2. Penggolongan Obat
Obat
dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu (Depkes RI, 2006) :
1.
Obat Bebas
Obat
bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter.
Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan
garis tepi berwarna hitam.
Contoh obat
diare : kaolin, pektin, attapulgit.
2.
Obat Bebas Terbatas
Obat
bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih
dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda
peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah
lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.
P1
Awas obat keras : baca aturan pakai
P2
Awas obat keras : obat kumur jangan ditelan
P3
Awas obat keras : untuk pemakaian luar
P4
Awas obat keras : hanya untuk dihisap
P5
Awas obat keras : obat luar tidak boleh ditelan
P6
Awas obat keras : obat wasir jangan ditelan
Contoh
obat diare : bismuth subsalisilat.
3.
Obat Keras dan Psikotropika
Obat
keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda
khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan
garis tepi berwarna hitam.
Contoh obat
diare : loperamid HCl.
Obat
psikotropika adalah obat keras alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
4.
Obat Narkotika
Obat
narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
menimbulkan ketergantungan.
Contoh obat
diare : morfin dan codein
Berdasarkan
nama, obat dibagi menjadi 2 yaitu obat generik dan obat dagang. Obat generik
adalah obat jadi dengan nama generik yang diproduksi oleh industri farmasi yang
telah menerapkan cara produksi obat yang baik (CPOB) yang dibutuhkan dengan
sertifikat CPOB yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia
dan dipasarkan dengan nama bahan aktifnya.. Obat dagang adalah obat yang beredar
di pasaran menggunakan nama dagang masing-masing produsennya (Purwadi, 2004).
2.7. Tinjauan Tentang Metode Simulasi
Pasien
Penggunaan
simulasi pasien untuk mempraktekkan secara umum atau untuk memperoleh hasil
yang ingin diukur selama melakukan penelitian kefarmasian. Simulasi pasien
adalah individu yang terlatih mengunjungi sebuah sarana farmasi untuk melakukan
skenario untuk mengetahui kelakuan yang spesifik dari apoteker atau petugas
apotek (Watson, 2006).
Peneliti
yang memilih penggunaan teknik ini sebaiknya menggunakan metode yang tepat
untuk menjamin memperoleh data yang tepat, reliabel, dan valid. Penulisan check list adalah metode pengumpulan
data yang paling banyak digunakan dalam simulasi pasien. Alat perekam digunakan
untuk merekam komentar dan tanggapan sebagai pelengkap dari kunjungan ke apotek
(Watson, 2006).
Simulasi
pasien harus dapat dipercaya. Penggunaan simulasi pasien dalam penelitian
praktek kefarmasian adalah metode yang efektif yang sulit dicapai dengan metode
yang lain. Penggunaan simulasi pasien dapat memperoleh hasil yang berkualitas
tinggi, misalnya dengan menyajikan informasi tambahan ke dalam presentasi dan
desain pebelajaran. Reliabilitas dari simulasi pasien meningkat jika jumlah
yang dikunjungi juga meningkat (Watson, 2006).
Kelebihan
metode simulasi pasien adalah (Watson, 2006):
1.
Metode ini dapat digunakan untuk menilai manajemen dari
penyakit ringan dan berat, efek dari pengubahan perilaku petugas apotek, dan
praktek kefarmasian jaman sekarang.
2.
Walaupun penggunaan simulasi pasien perlu perhatian
khusus dalam menjalankannya, simulasi pasien merupakan metode yang teliti dan
tepat untuk pengukuran jika digunakan sewajarnya.
Kekurangan
metode simulasi pasien adalah petugas apotek bisa mengubah perilakunya jika
simulasi pasien yang dijalankan dicurigai/diketahui (Watson, 2006).
BAB III
Kerangka Konseptual
|

![]() |
Gambar
3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini
termasuk penelitian deskriptif. Penelitian
deskriptif dimaksudkan untuk
pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu (Singarimbun, 1989).
Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi yang seteliti mungkin
tentang pelayanan kefarmasian tanpa resep di apotek wilayah Surabaya dengan
kasus diare pada lanjut usia.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi
penelitian adalah apotek-apotek di wilayah Surabaya dan waktu pengambilan data
di lapangan antara bulan Maret 2011-April 2011.
4.3. Populasi Penelitian
Populasi
penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
(Notoatmodjo, 2005). Yang dimaksudkan populasi dalam penelitian ini adalah apotek
di seluruh wilayah Surabaya. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilaksanakan
peneliti pada bulan Februari 2011 jumlah apotek di Surabaya adalah 629 apotek.
4.4. Sampel Penelitian
Sampel
penelitian adalah sebagian objek yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Pada
penelitian ini populasi yang digunakan cukup besar yaitu seluruh apotek di
wilayah Surabaya.
Jika diadakan pengamatan seluruh apotek di wilayah Surabaya akan terkendala
waktu yang panjang, dana yang banyak, dan juga tenaga. Untuk mengatasi
kendala-kendala tersebut, maka digunakan sampel yang diambil dari populasi
tersebut dengan metode tertentu, sehingga kesimpulan yang didapat berlaku untuk
populasi.
4.4.1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria inklusi
sampel penelitian adalah apotek-apotek di seluruh wilayah Surabaya. Sedangkan
kriteria eksklusinya yaitu apotek yang berada di bawah naungan rumah sakit dan
klinik kecantikan.
4.4.2. Besar Sampel
Menurut
Notoatmodjo (2005), besar sampel penelitian dihitung menggunakan rumus dengan
populasi yang diketahui yaitu :
d = Z x
x 


Keterangan
:
n = jumlah sampel
Z = standar deviasi normal, biasanya ditentukan pada 1,95 atau 2,0 yang
sesuai dengan derajat kemaknaan 95%
p = proporsi untuk sifat tertentu
yang diperkirakan terjadi pada populasi. Apabila tidak diketahui proporsi atau
sifat tertentu tersebut, maka p = 0,5
q = 1 - p
d = penyimpangan terhadap populasi atau
derajat ketepatan yang diinginkan, biasanya 0,05 atau 0,1
N = besarnya populasi
Jika diketahui N = 629; Z =
2,0; p = 0,5; q = 0,5; dan d = 0,1 maka akan didapatkan jumlah sampel sebanyak 86,4
apotek atau dibulatkan menjadi 90 apotek.
4.4.3. Teknik Sampling
Dalam penentuan
sampel, digunakan simple random sampling.
Simple random sampling adalah cara pengambilan sampel dari semua anggota
populasi yang dilakukan secara acak atau tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam anggota populasi itu (Sugiyono, 2001). Dasar memilih teknik ini karena
anggota populasi dianggap sama/homogen. Homogen di sini maksudnya adalah tidak
ada kriteria-kriteria tertentu untuk digunakan sampel, sebab tujuan penelitian
ini untuk mengetahui profil pelayanan kefarmasian di apotek tanpa
mempertimbangkan apotek itu besar atau kecil, terkenal atau tidak, tempatnya
dimana, dan yang memberi informasi apoteker atau bukan. Sarana acak yang
digunakan dalam penentuan sampel adalah menggunakan Microsoft Excel, yaitu dengan membuat kode apotek dengan menggunakan
angka kemudian memasukkan rumus random dalam Microsoft Excel sehingga didapatkan angka-angka acak sebanyak 90
buah.
4.5. Sumber Data
Sumber data
primer merupakan data yang diperoleh langsung dari pengamatan di lapangan. Sedangkan
sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung yang
memberikan keterangan tambahan atau keterangan pendukung data primer (Wibisono,
2009). Dalam penelitian ini sumber data bersifat primer karena diperoleh jumlah
apotek seluruh Surabaya dengan survei pendahuluan yang dilakukan oleh tim
peneliti dan juga data penelitian diperoleh dari pengamatan langsung pelayanan kefarmasian
di apotek wilayah Surabaya.
4.6. Variabel Penelitian
Variabel
penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek
yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2001). Variabel pada penelitian ini
meliputi patient assessment, rekomendasi,
dan informasi obat maupun non obat (Tabel IV.1.)
Tabel IV.1. Variabel Penelitian
Variabel
|
Indikator
|
Patient assessment
|
|
Lanjutan Tabel IV.1
Variabel
|
Indikator
|
|
|
Rekomendasi
|
|
Informasi obat
|
|
Informasi non obat
|
|
4.7.
Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti (Sugiyono, 2001). Instrumen
dalam penelitian ini adalah skenario dan check
list. Sebelum melakukan simulasi pasien di apotek, peneliti harus sudah
menyiapkan dahulu skenario yang digunakan dan lembar check list yang berisi poin-poin yang ingin didapatkan sebagai data
pengamatan.
4.7.1. Skenario
Skenario
merupakan persiapan dari simulasi pasien yang berisi semua yang berkaitan
dengan data dan informasi terkait pasien, serta hal-hal yang harus dilakukan
pada saat simulasi pasien untuk memperlancar jalannya pengamatan. Skenario
harus disiapkan dengan tujuan :
- Menghindari kecurigaan dari petugas apotek terhadap simulasi pasien yang dijalankan.
- Menyiapkan adanya pertanyaan-pertanyaan yang tidak diduga dari petugas apotek sehingga pengamatan bisa berjalan dengn baik.
- Menjaga kondisi dalam melakukan simulasi pasien sehingga pengamatan bisa optimal.
Skenario yang
digunakan dalam penelitian ini :
1. Peneliti datang ke apotek
untuk membeli obat diare (“Beli obat diare”).
2. Jika petugas apotek
melakukan patient assessment, maka
skenario yang digunakan peneliti adalah :
Pasien : Sunyoto
Jenis Kelamin :
Laki-laki
Usia : 71 tahun
Hubungan dengan
peneliti : Kakek
Alamat : Jln.
Jojoran 3 Gang 5 No. 47
Pekerjaan : Pensiunan polisi
Riwayat penyakit
: Tidak ada
Gejala yang dikeluhkan : Buang air besar 5x sehari, konsistensi lembek.
Keluhan nyeri perut : Tidak ada
Keluhan perut kembung/mual/muntah : Tidak ada
Lama gejala yang
dialami sampai sekarang : 1 hari
Tindakan yang
sudah diperbuat : Belum ada
Obat lain yang sedang digunakan : Tidak ada
Alergi terhadap obat
: Tidak ada
Kebiasaan : Merokok, tidak suka makanan pedas.
Makanan yang
dikonsumsi kemarin : Makan rujak pedas.
Alasan ke apotek : Sedang lewat daerah tersebut dari rumah teman.
3. Jika
tidak ada informasi obat yang diberikan maka peneliti bertanya : “Berapa banyak
obat yang diminum ?”
4. Pencatatan
dilakukan di luar apotek tanpa sepengetahuan petugas apotek.
4.7.2. Check list
Check list adalah suatu daftar pengecek, berisi nama subjek dan
beberapa gejala/identitas lainnya dari sasaran pengamatan (Notoatmodjo, 2005). Isi
lembar check list adalah patient assessment, rekomendasi, dan
informasi terkait obat maupun non obat sebagai pelayanan yang diberikan petugas
apotek kepada klien diare pada lanjut usia. Lembar check list ini dilengkapi oleh peneliti di luar apotek setelah
mengunjungi apotek sampel.
Sebagai
instrumen pengumpulan data, check list
mempunyai keuntungan dan kekurangan.
Keuntungan
menggunakan metode check list :
1.
Mempermudah dalam mengingat apa yang diberikan petugas apotek
terkait patient assessment, rekomendasi,
dan informasi obat maupun non obat.
2.
Mempermudah dalam mengolah data.
3.
Efektif waktu, karena cukup memberikan tanda dan tidak perlu
menulis apa yang dikatakan petugas apotek.
4.
Data menjadi teratur dan terskema dengan baik.
Kekurangan
menggunakan metode check list :
1. Tidak bisa mencantumkan
informasi lain selain patient assessment,
rekomendasi, dan informasi obat/ non obat yang dilakukan petugas apotek.
2. Peneliti harus membuat
kesimpulan apa yang telah dikatakan oleh petugas apotek.
3. Bisa terjadi salah persepsi.
Kekurangan-kekurangan
tersebut dapat diatasi dengan :
Peneliti harus
benar-benar konsentrasi penuh untuk memahami apa yang dikatakan petugas apotek
dan menggunakan alat perekam selama tidak melanggar etik.
4.8. Definisi Operasional
Batasan-batasan
yang digunakan dalam penelitian.
- Apotek merupakan salah satu tempat praktek profesi apoteker yang melayani pasien swamedikasi.
- Pelayanan tanpa resep adalah pelayanan yang diberikan petugas apotek kepada klien yang datang tanpa membawa resep atau ingin melakukan pengobatan sendiri.
- Petugas apotek merupakan orang yang memberikan pelayanan di apotek kepada klien terkait keluhan gejala diare pada lanjut usia.
- Patient assessment adalah pertanyaan yang digunakan petugas apotek terhadap klien untuk menggali informasi terkait pasien diare pada lanjut usia. Patient assessment disini meliputi siapa yang sakit diare, berapa usia pasien diare, apa gejala yang dialami pasien diare, berapa lama mengalami gejala diare, apa tindakan yang sudah diperbuat untuk mengatasi gejala diare, dan apa obat-obat lain yang sedang digunakan.
- Rekomendasi meliputi rujukan atau saran yang diajukan petugas apotek terhadap pasien diare lanjut usia terkait obat sebagai tindak lanjut dari keluhan-keluhan gejala yang dialami pasien diare. Rekomendasi dapat berupa saran untuk menggunakan/memilih obat-obat tertentu dan dapat berupa rujukan lebih lanjut, misalnya dokter, rumah sakit, Puskesmas, dan sarana kesehatan lain.
- Informasi obat adalah informasi yang diberikan oleh petugas apotek kepada klien diare lanjut usia tentang obat yang terpilih (indikasi, kontraindikasi, efek samping obat, cara pemakaian, dosis, waktu pemakaian, lama pemakaian, perhatian, jika lupa minum obat, cara penyimpanan, cara perlakuan sisa obat, identifikasi obat yang rusak).
- Indikasi adalah terapi suatu obat yang dianjurkan pemakaiannya.
- Kontraindikasi adalah keadaan-keadaan yang sebaiknya dihindari untuk pemakaian obat diare pada pasien lanjut usia.
- Efek samping adalah efek yang tidak dikehendaki yang muncul dari pemakaian obat diare pada pasien lanjut usia.
- Cara pemakaian adalah cara yang dianjurkan terhadap pemakaian suatu obat diare lanjut usia.
- Dosis adalah takaran dan frekuensi pemakaian suatu obat diare.
- Waktu pemakaian adalah waktu yang dianjurkan petugas apotek untuk menggunakan obat diare pada pasien lanjut usia.
- Lama pemakaian maksudnya lamanya penggunaan obat diare yang dianjurkan petugas apotek di apotek.
- Perhatian adalah penjelasan dan peringatan yang perlu diperhatikan.
- Lupa minum obat adalah penjelasan petugas apotek tentang tindakan jika terjadi kelupaan saat minum obat diare.
- Cara penyimpanan adalah tentang menyimpan obat yang baik dan benar sehingga stabilitas tetap terjaga.
- Cara perlakuan sisa obat adalah penjelasan tentang cara memperlakukan sisa obat yang telah digunakan.
- Identifikasi obat rusak adalah pengenalan karakteristik obat diare yang telah rusak atau berubah sifat.
- Informasi non obat adalah informasi yang diberikan oleh petugas apotek kepada klien diare lanjut usia terkait terapi non obat (makanan, asupan cairan, pola hidup, dan lain-lain).
- Makanan meliputi penjelasan tentang keteraturan waktu makan serta makanan yang dianjurkan dan dijauhi pasien diare.
- Intake cairan meliputi pemberian atau penggantian cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi.
- Pola hidup meliputi kebiasaan-kebiasaan yang harus diubah sebagai upaya penyembuhan maupun pencegahan terjadinya diare pada lanjut usia.
4.9. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
4.9.1. Uji Validitas
Hasil penelitian
yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang
sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Instrumen yang valid berarti
alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid
berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak
diukur (Sugiyono, 2001).
Menurut
Singarimbun, jenis validitas dibagi menjadi :
- Validitas konstruk (construct) adalah kerangka dari suatu konsep. Dengan diketahuinya kerangka tersebut, seorang peneliti dapat menyusun tolok ukur operasional konsep tersebut.
- Validitas isi adalah suatu alat pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep.
- Validitas eksternal dipakai untuk mengetahui apakah alat pengukur tersebut memberikan hasil yang sama, maka hasil pengukuran dengan kedua alat tersebut harus dikorelasikan teknik statistik korelasi.
- Validitas prediktif adalah alat pengukur yang dibuat oleh peneliti seringkali dimaksudkan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
- Validitas budaya merupakan validitas yang penting bagi penelitian di negara yang suku bangsanya sangat bervariasi. Di dalam menyusun suatu alat pengukur, responden dari suku yang akan diteliti harus dipakai di dalam melakukan uji coba alat ukur tersebut.
- Validitas rupa merupakan validitas yang tidak menunjukkan apakah alat pengukur mengukur apa yang ingin diukur. Validitas rupa hanya menunjukkan bahwa dari segi “rupanya” suatu alat pengukur tampaknya mengukur apa yang ingin diukur. Bentuk dan penampilan suatu alat pengukur menetukan apakah alat ukur tersebut memiliki validitas atau tidak. Bentuk dan penampilan alat pengukur itu sendiri sudah meyakinkan kalau alat pengukur tersebut mengukur apa yang ingin diukur.
Dalam penelitian
ini digunakan validitas rupa yang merupakan teknik penaksiran untuk mengecek
kebenaran secara perasaan yang menggunakan pertimbangan dari persetujuan orang
yang menilai sebagai sebuah prosedur, kalimat, atau instrumen yang terlihat/rupanya
bisa disuarakan atau ada hubungannya. Validitas rupa meliputi validitas dengan
asumsi (bukan penaksiran secara statistik dari ikatan logika antara elemen atau
poin-poin dari sebuah instrumen dan tujuannya) dan validitas dengan definisi
(ditentukan dengan satu atau lebih ahli bahwa elemen atau poin-poin dari
instrumen yang menggambarkan dengan menaksirkan isinya). Validitas rupa bersifat
tidak kuantitatif dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menggunakan perasaan
(Lynn, 1986). Validitas rupa adalah tes yang sangat subjektif yang dilakukan
oleh 2 individu yang berbeda yang bisa mempunyai penilaian yang berbeda
terhadap instrumen (Ruane, 2005).
4.9.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas
adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya
atau dapat diandalkan. Bila suatu alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur
gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka
alat pengukur tersebut reliabel (Singarimbun, 1989).
Uji reliabilitas
yang digunakan adalah dengan simulasi pasien yaitu peragaan dengan dosen
pembimbing. Peneliti, dosen pembimbing 1 sebagai petugas apotek, dosen pembimbing
2 sebagai orang ketiga atau yang mengecek kesesuaian informasi yang diberikan
petugas apotek dengan peneliti. Selain itu, uji reliabilitas juga dilakukan
dengan mengunjungi apotek non sampel sesuai dengan skenario yang telah
disiapkan. Tujuannya adalah melihat ulang dari penggunaan simulasi pasien
sebagai alat metodologi selama praktek penelitian farmasi dan untuk
mengidentifikasi pentingnya karakteristik yang sebaiknya dipertimbangkan untuk
tetap menggunakan teknik ini (Watson, 2006).
4.10.Metode Pengumpulan Data
Langkah-langkah
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
- Peneliti datang ke apotek.
- Melakukan skenario yang telah disiapkan.
- Berkonsentrasi dan merekam dengan alat perekam apa yang diberikan petugas apotek terkait patient assessment, rekomendasi, dan informasi obat maupun non obat.
- Keluar apotek dan mengisi check list yang telah disiapkan.
4.10.1.
Kerangka Operasional
Penelitian

Survei Pendahuluan
![]() |
Pengujian
Instrumen




Pengolahan
Data
Gambar 4.1 Kerangka Operasional Penelitian
4.10.2.
Kerangka Operasional
Pengumpulan Data

![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar 4.2 Kerangka Operasional
Pengumpulan Data
4.11. Teknik Analisa Data
Pada penelitian
ini digunakan statistik deskriptif
yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum/generalisasi
(Sugiyono, 2001). Pengolahan data menggunakan SPSS dengan penyajian data
melalui tabel, grafik, diagram, perhitungan angka, dan persentase.
BAB V
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan persetujuan etik
yang ditentukan oleh Komisi Etika Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat Universitas Airlangga Nomor 172/PANEC/LPPM/2011 kemudian melakukan pilot study pada lima apotek yang
terpilih secara acak, maka dilakukan pengambilan data penelitian pada bulan
Maret sampai dengan April 2011 yang dilakukan pada 90 apotek sampel secara
random di wilayah Surabaya. Dalam pelaksanaan pengambilan data dari 90 apotek
sampel tersebut ada beberapa apotek yang diganti dengan apotek baru yang
didapatkan dari hasil sampling dari kelompok apotek cadangan penelitian disebabkan
karena beberapa hal. Data hasil penelitian adalah sebagai berikut.
5.1. Patient Assessment
Gambar 5.1 menunjukkan
persentase dari apotek sampel terkait pemberian patient assessment.

Gambar 5.1. Persentase Apotek Sampel Terkait Patient Assessment
Di bawah ini (Tabel V.1.)
adalah tabel distribusi komponen patient
assessment yang ditanyakan oleh petugas apotek.
Tabel V.1. Distribusi Komponen
Patient Assessment yang Ditanyakan
oleh Petugas Apotek
Indikator
|
Ya, n (%)
|
Tidak, n (%)
|
Siapa yang
sakit/mengalami gejala-gejala diare
|
30 (33,3)
|
60 (66,7)
|
Berapa usia yang sakit diare
|
10 (11,1)
|
80 (88,9)
|
Gejala :
|
|
|
Frekwensi BAB tidak normal
|
21 (23,3)
|
69 (76,7)
|
Nyeri perut
|
0
(0,0)
|
90 (100,0)
|
Perut kembung/mual/muntah
|
1
(1,1)
|
89 (98,9)
|
Konsistensi feses
|
8
(8,9)
|
82 (91,1)
|
Gejala lain
|
0
(0,0)
|
90 (100,0)
|
Berapa lama pasien diare mengalami sakit
|
6
(6,7)
|
84 (93,3)
|
Apa tindakan
yang sudah diperbuat selama mengalami gejala diare
|
3
(3,3)
|
87 (96,7)
|
Apa obat-obat
lain yang sedang digunakan
|
3
(3,3)
|
87 (96,7)
|
5.2.
Rekomendasi
Tabel V.2. di bawah ini
adalah rekomendasi yang diberikan oleh petugas apotek.
Tabel V.2. Jenis Rekomendasi yang Diberikan
Rekomendasi
|
Ya, n (%)
|
Tidak, n (%)
|
Berupa rujukan ke dokter
|
0
(0,0)
|
90 (100,0)
|
Berupa rekomendasi obat
|
90 (100,0)
|
0
(0,0)
|
Dari seluruh apotek yang
merekomendasikan obat, klien dilibatkan dalam pemilihan obat di 11 apotek (12,2%).
Harga obat yang
direkomendasikan oleh petugas apotek terlihat pada Tabel V.3 berikut.
Tabel V.3. Rentang Harga Obat yang Direkomendasikan
Rentang Harga
|
n (%)
|
< Rp. 2.501,00
|
32 (35,6)
|
Rp. 2.501,00 – Rp. 5.000,00
|
16 (17,8)
|
Lanjutan Tabel V.3
Rentang Harga
|
n (%)
|
Rp. 5.001,00 – Rp. 7.500,00
|
27 (30,0)
|
Rp. 7.501,00 – Rp. 10.000,00
|
7 (7,8)
|
Rp. 10.001,00 – Rp. 12.500,00
|
2 (2,2)
|
Rp. 12.501,00 – Rp. 15.000,00
|
4 (4,5)
|
Rp. 15.001,00 – Rp. 17.500,00
|
0 (0,0)
|
>Rp. 17.500,00
|
1 (1,1)
|
Total
|
89 (98,9)*
|
*Di satu apotek obat yang direkomendasikan tidak tersedia
Tabel V.4 menampilkan jenis
obat yang direkomendasikan petugas apotek yang telah dikelompokkan berdasarkan
mekanisme kerja dan kandungan bahan aktifnya.
Tabel V.4. Jenis Obat yang Direkomendasikan
Mekanisme kerja
|
Kandungan
bahan aktif
|
Nama Obat
|
n (%)
|
Adsorben
|
attapulgit 630 mg
ekstrak Psidii
Folium 23,5%, ekstrak Curcumae
domesticae Rhizome 12,5%, ekstrak Coix
lacrima jobi Semen 18%, ekstrak Phellodendri Radix 23%, ekstrak Coptidis
Rhizome 23%
attapulgit 650 mg,
pektin 50 mg
attapulgit aktif
600 mg
norit 125 mg
|
Biodiar® (tablet)
Diapet® (tablet)
Diapet NR® (kapsul)
Neo Entrostop® (tablet)
New Diatabs® (tablet)
Norit® (tablet)
|
1
(1,1)
7
(7,8)
12 (13,3)
1
(1,1)a
16 (17,8)b
1
(1,1)
|
Anti motilitas
|
loperamid HCl 2 mg
|
Imodium® (tablet)
Inamid® (tablet)
Lodia® (tablet)
Motilex® (tablet)
Novadium® (tablet)
|
29 (32,2)c
1
(1,1)
10 (11,1)
2
(2,2)
1
(1,1)
|
Adsorben +
antibiotik
|
attapulgit 630 mg
+ trimetoprim & sulfametoksazol 80 mg & 400 mg
|
Biodiar® (tablet) +
Primadex Forte® (tablet)
|
1
(1,1)
|
Lanjutan Tabel V.4
Mekanisme kerja
|
Kandungan
bahan aktif
|
Nama Obat
|
n (%)
|
Anti motilitas +
antibiotik
|
loperamid HCl 2 mg
+ trimetoprim 80 mg & sulfametoksazol 400 mg
loperamid HCl 2
mg+ sulfametoksazol 800 mg & trimetoprim 160 mg
loperamid HCl 2
mg+ thiamfenikol
loperamid HCl 2 mg
+ tetrasiklin dapar fosfat setara tetrasiklin HCl 250 mg
|
Lopamid® (tablet) +
Cotrimoksazol (tablet)
Loperamide HCl (tablet)
+ Primadex Forte® (tablet)
Lodia® (tablet)
+ Sanprima Forte® (tablet)
Imodium® (tablet) +
Thiamin® (tablet)
Xepare® (tablet) +
Sanlin® (tablet)
|
1
(1,1)
1
(1,1)
1
(1,1)
1
(1,1)
1
(1,1)
|
Adsorben + anti
motilitas
|
attapulgit aktif
600 mg + loperamid HCl 2 mg
|
New Diatabs® (tablet) +
Gradilex® (tablet)
|
1
(1,1)
|
Anti motilitas +
anti spasmodik + antibiotik
|
loperamid HCl 2 mg
+ metampiron 500 mg, ekstrak beladona 10 mg, papaverin HCl 25 mg +
trimetoprim 80 mg & sulfametoksazol 400 mg
|
Motilex® (tablet) +
Spasminal® (tablet) + Primadex Forte® (tablet)
|
1
(1,1)
|
Keterangan :
a =
ada 1 apotek yang memberi NeoEentrostop® + oralit
b = ada 1 apotek yang memberi New Diatabs® +
oralit
c = ada 1 apotek yang memberi Imodium® +
oralit
Gambar 5.2. menunjukkan
jenis obat yang direkomendasikan berdasarkan mekanisme kerjanya.

Gambar 5.2. Mekanisme Kerja Obat yang Direkomendasikan
Jenis obat yang
direkomendasikan dikelompokkan juga berdasarkan penamaan (generik-dagang)
(Tabel V.5) dan berdasarkan penggolongan keamanannya (Tabel V.6)
Tabel V.5. Jenis Obat yang
Direkomendasikan Berdasarkan Penamaan (generik – dagang)
Jenis
Obat
|
n
(%)
|
Dagang
|
80
(88,9)
|
Generik-dagang
|
2
(2,2)
|
Dagang-dagang
|
6
(6,7)
|
Dagang-dagang-dagang
|
1
(1,1)
|
Obat Cina tanpa
registrasi
|
1
(1,1)
|
Tabel V.6. Golongan Obat yang Direkomendasikan
Golongan
Obat
|
n
(%)
|
Obat bebas
|
19
(21,1)
|
Obat keras
|
43
(47,8)
|
Obat herbal
terstandar
|
19
(21,1)
|
Obat bebas-obat
keras
|
2
(2,2)
|
Obat keras-obat
keras
|
5
(5,6)
|
Obat keras-obat
keras-obat keras
|
1
(1,1)
|
Obat cina tanpa
registrasi
|
1
(1,1)
|
5.3. Informasi
Obat
Berikut ini adalah gambar persentase pemberian
informasi obat oleh petugas apotek.

Gambar 5.3. Persentase Apotek Sampel Terkait Pemberian
Informasi Obat
Tabel V.7 di bawah ini
adalah tabel distribusi informasi obat yang diberikan oleh petugas apotek.
Tabel V.7. Distribusi Informasi Obat yang Diberikan
oleh Petugas Apotek
Indikator
|
Ya, n (%)
|
Tidak, n (%)
|
Indikasi
|
3 (3,3)
|
87 (96,7)
|
Kontraindikasi
|
0 (0,0)
|
90
(100,0)
|
Efek Samping
|
0
(0,0)
|
90
(100,0)
|
Cara Pemakaian
|
37
(41,1)
|
53 (58,9)
|
Dosis
|
20
(22,2)
56
(62,2)*
|
14 (15,6)
|
Waktu Pemakaian
|
28 (31,1)
|
62 (68,9)
|
Lama Pemakaian
|
16
(17,8)
|
74 (82,2)
|
Perhatian
|
0 (0,0)
|
90
(100,0)
|
Terlupa Minum Obat
|
0 (0,0)
|
90
(100,0)
|
Cara Penyimpanan
|
0 (0,0)
|
90
(100,0)
|
Cara Perlakuan Sisa Obat
|
1 (1,1)
|
89 (98,9)
|
Identifikasi Obat Yang Rusak
|
0 (0,0)
|
90
(100,0)
|
*ada pancingan
Berdasarkan Tabel V.7
tersebut tampak bahwa banyak petugas apotek yang memberikan informasi tentang
cara pemakaian, waktu pemakaian serta dosis obat baik dengan atau tanpa
pancingan dari klien. Tabel V.8 berikut adalah penjelasan mengenai dosis yang
diberikan petugas apotek.
Tabel V.8. Distribusi Pemberian Keterangan Informasi
Dosis oleh Petugas Apotek
Bentuk sediaan
|
Dosis
|
n (%)
|
|
Takaran
|
Frekuensi
|
||
Tablet
|
1 tablet
|
Tidak ada penjelasan
Satu kali sehari
Dua kali sehari
Tiga kali sehari
Setiap habis buang air besar
Setiap 3-5 jam
|
9 (10,0)
1 (1,1)
3 (3,3)
2 (2,2)
1 (1,1)
2 (2,2)
|
2 tablet
|
Tidak ada penjelasan
Dua kali sehari
Setiap habis buang air besar
Maksimal 6 tablet sehari
|
9 (10,0)
4 (4,5)
7 (7,8)
1 (1,1)
|
|
3 tablet
|
Setiap habis buang air besar
|
1 (1,1)
|
|
Tidak ada penjelasan
|
Tidak ada penjelasan
Dua kali sehari
Tiga kali sehari
Setiap habis buang air besar
Satu kali
Maksimal 3 tablet sehari
|
11 (12,2)
3 (3,3)
18 (20,0)
3 (3,3)
2 (2,2)
1 (1,1)
|
|
Kapsul
|
2 kapsul
|
Tidak ada penjelasan
Dua kali sehari
Setiap habis buang air besar
|
2 (2,2)
5 (5,6)
3 (3,3)
|
Tidak ada penjelasan
|
Dua kali sehari
Tiga kali sehari
|
1 (1,1)
1 (1,1)
|
|
Total
|
|
|
90 (100,0)
|
5.4. Informasi
Non Obat
Di bawah ini adalah gambar
persentase pemberian informasi non obat oleh petugas apotek.

Gambar 5.4. Persentase Apotek Sampel Terkait Pemberian
Informasi Non Obat
Di bawah ini (Tabel V.9) adalah
tabel distribusi informasi non obat yang diberikan oleh petugas apotek.
Tabel V.9. Distribusi Informasi Non Obat yang
Diberikan oleh Petugas Apotek
Indikator
|
Ya, n (%)
|
Tidak, n (%)
|
Makanan
|
1 (1,1)
|
89 (98,9)
|
Cairan (Elektrolit)
|
5 (5,6)
|
85 (94,4)
|
Pola hidup
|
0 (0,0)
|
90 (100,0)
|
BAB VI
PEMBAHASAN
Pada penelitian
ini didapatkan data dari 90 apotek sampel di wilayah Surabaya yang mewakili
seluruh apotek di Surabaya. Data-data tersebut merupakan data yang diambil
dengan melakukan pengamatan langsung di apotek. Terhadap variabel patient assessment, rekomendasi, informasi
obat dan non obat. Data tersebut merupakan implementasi dari pelayanan
kefarmasian yang dilakukan oleh suatu apotek pada khususnya, dan apotek di
seluruh Surabaya pada umumnya.
6.1. Patient Assessment
Patient assessment yang diambil datanya adalah siapa yang sakit, berapa
usia yang sakit, apa gejala yang dialami pasien, berapa lama pasien mengalami
sakit, apa tindakan yang sudah dilakukan selama mengalami gejala, dan apa
obat-obat lain yang sedang digunakan. Dilakukan pemilihan indikator tersebut karena
penelitian ini mengacu pada metode WWHAM (What,
Who, How long, Action, Medication) (Blenkinsopp, 2002). Selain itu,
indikator-indikator patient assessment
tersebut mewakili dari standar pelayanan kefarmasian di apotek dan sudah cukup
memberikan petunjuk dan pegangan petugas apotek terhadap kasus swamedikasi
diare pada lanjut usia dalam melakukan dan memutuskan tindakan selanjutnya
(rekomendasi dan informasi obat dan non obat).
Dari data yang
didapatkan, 54% apotek menggunakan patient
assessment dalam melakukan pelayanan kefarmasian tanpa resep pada kasus
diare lanjut usia. Sedangkan sebesar 46% sama sekali tidak menggunakan patient assessment dalam penentuan
pemilihan obat diare yang sesuai dengan pasien. Dari sini dapat dilihat bahwa
masih banyak apotek di wilayah Surabaya yang kurang memperhatikan
profesionalisme dalam pelayanan.
Indikator siapa
yang sakit/mengalami gejala-gejala diare ditanyakan oleh 33,3% petugas apotek.
Indikator ini penting untuk mengetahui apakah yang datang ke apotek tersebut
pasien ataukah klien selain pasien. Dari indikator tersebut petugas apotek
dapat menentukan apakah yang dihadapi pasien langsung atau bukan yang dapat
mempengaruhi cara pemberian informasi obat dan non obat oleh petugas apotek
dalam pemberian layanan. Indikator ini penting untuk mengetahui terkait
pasien/hubungan antara pasien dengan klien yang dihadapi. Sedangkan indikator
usia pasien yang ditanyakan oleh 11,1% petugas apotek diperlukan untuk menentukan
terapi yang sesuai terkait bentuk sediaan, cara pemakaian, dan dosis. Selain
itu, dengan mengetahui siapa pasien dan umur pasien maka dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan untuk lebih menggali informasi yang masih dibutuhkan
dari pasien. Untuk pasien lanjut usia, misalnya terjadi penurunan fungsi organ
tubuh dan timbul kemungkinan adanya penyakit lain. Di sisi lain diare pada
lansia ada kemungkinan terjadinya resiko dehidrasi. Menurut Dipiro (2008),
pasien lanjut usia dan bayi (kurang dari satu tahun) sangat beresiko mengalami
dehidrasi pada saat diare, sehingga perlu penanganan khusus.
Gejala merupakan
tanda-tanda mengalami sakit tertentu. Dalam kasus diare pengenalan gejala perlu
dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat keparahan sakitnya dengan kata lain
untuk mempertimbangkan apakah diare yang diderita pasien perlu segera dirujuk
ke dokter atau tidak. Dari sini dapat juga digunakan untuk memastikan apakah
sakit yang diderita pasien sama dengan keluhannya. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa 21 apotek (23,3%) melakukan patient assessment yang berupa frekuensi buang air besar dan hanya delapan
apotek (8,9%) menanyakan konsistensi feses pasien.
Lama pasien
diare mengalami sakit adalah untuk menentukan diare tersebut masuk kategori
akut atau kronis. Diare akut adalah diare yang terjadi selama 14 hari atau kurang.
Diare kronik adalah diare yang terjadi lebih dari 30 hari (Dipiro, 2008). Akan
tetapi hanya enam (6,7%) apotek yang menunjukkan upaya untuk mengumpulkan data
tersebut.
Dalam menentukan
terapi perlu ditanyakan juga tindakan yang sudah dilakukan maupun obat-obat
yang sedang digunakan. Hal ini diperlukan untuk melihat ada tidaknya interaksi
obat sehingga drug related problems
bisa minimal. Dari data penelitian hanya didapatkan 3,3% yang menanyakan
tindakan yang sudah dilakukan dan obat-obat yang sedang digunakan pasien.
6.2. Rekomendasi
Pada variabel rekomendasi terdapat dua indikator yaitu
berupa rujukan ke dokter dan berupa rekomendasi obat. Dalam menentukan
rekomendasi tersebut petugas apotek mengacu kepada patient assessment yang telah dilakukan. Jadi patient assessment adalah untuk mendasari dilakukannya rekomendasi.
Pada penelitian ini, tidak
ada satu petugas apotek pun yang memberikan rujukan ke dokter secara langsung.
Namun ada satu apotek yang merekomendasikan obat diare disertai dengan pemberian
rekomendasi rujukan ke dokter bila diare pasien sampai hari berikutnya masih
terus berlanjut. Skenario yang disusun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa
pasien diare tersebut memerlukan rujukan ke dokter pada saat mengunjungi apotek
tersebut, namun ada himbauan jika diare lebih dari 48 jam atau dua hari maka
dihimbau untuk dirujuk ke dokter.
Pasien dilibatkan dalam
pemilihan obat di 11 apotek (12,2%). Adanya persentase yang cukup tinggi ini
dikarenakan petugas apotek ingin menghormati hak pasien untuk memilih obat
setelah diberikan penjelasan tentang obat-obat diare tersebut. Selain itu juga
adanya kemungkinan petugas apotek tidak ingin mengunggulkan suatu produk
tertentu.
Macam-macam
obat yang paling banyak diberikan berdasarkan mekanisme kerja adalah anti
motilitas sebanyak 43 buah (48%) disusul dengan adsorben sebanyak 38 buah
(43%). Dari 43 obat anti motilitas tersebut, 29 diantaranya adalah obat dengan
nama paten Imodium®. Sedangkan adsorben yang banyak direkomendasikan
antara lain obat dengan kandungan attapulgit aktif (n=16) dan obat yang
mengandung beberapa ekstrak tanaman yang berkhasiat sebagai anti diare (n=12).
Tidak hanya merekomendasikan satu jenis obat, beberapa apotek menyarankan agar
pasien memperoleh terapi kombinasi, seperti anti motilitas dan antibiotik
(n=5), adsorben dan antibiotik, adsorben dan antibiotik, dan anti motilitas, anti
spasmodik, dan antibiotik. Pemberian obat yang bermacam-macam ini dikarenakan
kurang lengkapnya informasi yang di dapatkan petugas apotek saat patient assessment terkait kasus diare
pada pasien. Dilihat dari penyebab diare dari pasien adalah dikarenakan makanan
pedas, oleh karena itu terapi yang paling tepat adalah dengan pemberian
adsorben. Adsorben cara kerjanya adalah dengan
mengadsorbsi cairan dalam feses (Dipiro, 2008).
Setiap apotek
mempunyai perbedaan dalam menginterpretasikan kasus diare pada pasien lanjut
usia. Ini disebabkan kurang lengkapnya patient
assessment terkait gejala dan kemungkinan penyebab diare pasien yang
dilakukan oleh petugas apotek Ini
berakibat salah satunya pada pemberian terapi berupa obat.
Pengelompokan
rentang harga di pada penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan persebaran
harga yang ditentukan oleh apotek di wilayah Surabaya terhadap tanggung jawab
yang diberikan. Pemberian obat terbanyak adalah pada harga kurang dari Rp. 2.501,00
yaitu sebanyak 32 apotek dan pemberian obat pada harga lebih dari Rp. 17.500,00
hanya dilakukan oleh satu apotek. Ini menunjukkan bahwa pelayanan apotek tetap
memperhatikan biaya yang minimal untuk mendapatkan terapi yang maksimal.
Jenis obat
yang direkomendasikan oleh 81 apotek merupakan obat dagang. Meskipun pemerintah
mewajibkan penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan, jenis obat
generik yang tersedia untuk kasus diare terbatas sehingga tidak memungkinkan petugas
apotek memberikan obat generik.
Data golongan
obat dari pengamatan ini adalah obat keras 43 apotek, obat bebas 19 apotek,
obat herbal terstandar 19 apotek, diikuti obat keras-obat keras, obat
bebas-obat keras, obat keras-obat keras-obat keras, dan juga mendapatkan obat
cina yang tidak tercantum nomor registrasinya. Obat keras khususnya dengan
bahan aktif loperamid HCl paling banyak direkomendasikan dalam kasus ini.
Obat keras adalah obat
yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter (Depkes RI, 2006). Dari
sini dapat diketahui ada suatu kekurangpatuhan atau kekurangpemahaman petugas
apotek dalam pelayanan kefarmasian. Di Australia, loperamid HCl termasuk
golongan obat bebas terbatas yang dijual bebas di apotek. Jadi berbeda negara
berbeda juga kebijakannya.
6.3. Informasi
Obat
Pemberian informasi adalah untuk mendukung
penggunaan obat yang benar dan rasional, monitoring penggunaan obat untuk
mengetahui tujuan akhir serta kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan atau medication error (Pemerintah RI, 2009).
Informasi obat ditujukan untuk tercapainya efek terapi yang optimal dengan medication error yang minimal.
Pada
penelitian ini 92% apotek memberikan informasi obat baik secara langsung maupun
menggunakan pancingan terlebih dahulu. Ini menunjukkan adanya upaya dari
petugas apotek untuk bertanggung jawab terhadap keefektifan, keamanan, dan
keefisianan dalam penggunaan obat.
Penjelasan
indikasi perlu diberikan dalam pelayanan kefarmasian karena ada beberapa obat kombinasi
yang direkomendasikan petugas apotek dan juga adanya antibiotik yang
direkomendasikan sehingga pasien paham tujuan terapi masing-masing obat dan
juga dapat meminimalkan kesalahan menggunakan obat. Dari data ada apotek yang
memberikan tiga obat yang berbeda sekaligus (anti motilitas, anti spasmodik,
dan antibiotik secara bersamaan), sehingga klien perlu ditunjukkan indikasi
masing-masing obat. Apotek yang melakukan informasi obat berupa indikasi hanya
sebanyak tiga apotek (3,3%).
Dosis
adalah sangat penting dalam pemberian terapi obat pada kasus diare lanjut usia.
Dosis menentukan keberhasilan terapi pasien karena obat diare sangatlah banyak
jenisnya di mana setiap obat memiliki dosis tertentu untuk mewujudkan terapi
yang tepat dan optimal sebagai contoh banyak obat diare yang sekali minum dua
tablet atau kapsul terutama obat-obat adsorben, misalnya obat dengan kandungan
attapulgit (ISFI, 2008). Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan
pancingan terhadap informasi obat berupa dosis apabila informasi tersebut tidak
disampaikan langsung oleh petugas apotek. Dari data pengamatan didapatkan 20
apotek (22,2%) yang memberikan informasi dosis secara langsung tanpa dipancing,
56 apotek (62,2%) memberikan informasi dosis dengan pancingan, dan 14 apotek (15,6)
tidak memberikan informasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa masih banyak
pelayanan kefarmasian di apotek yang melewatkan pemberian informasi penting
tersebut.
Memberikan
informasi obat berupa dosis berarti menginformasikan tentang takaran dan frekuensi
pemakaian. Dari data penelitian terlihat ada dua bentuk sediaan yang
direkomendasikan, yaitu tablet sebanyak 78 apotek (86,7%) dan kapsul sebanyak
12 apotek (13,3%). Persentase tertinggi dari bentuk sediaan tablet adalah pada
dosis tiga kali sehari yaitu sebesar 20%. Sedangkan persentase tertinggi dari
bentuk sediaan kapsul adalah pada dosis dua kali sehari dua kapsul yaitu
sebesar 5,6%. Takaran dan frekuensi yang bermacam-macam tersebut menunjukkan
obat yang direkomendasikan sangat beragam tergantung pada kandungan bahan aktif
obat. Hal ini dapat disebabkan persepsi petugas apotek yang satu dengan petugas
apotek yang lain berbeda dalam melihat keadaan pasien, apalagi yang datang ke
apotek bukan pasien sendiri.
Waktu dan
lama pemakaian adalah mengacu pada keefektifan penggunaan obat. Dari pengamatan
didapatkan data beberapa apotek merekomendasikan lebih dari satu obat. Sebagai
contoh ada apotek yang merekomendasikan obat diare dan antibiotik. Ini perlu
kejelasan kapan obat diare dan antibiotik digunakan, selain itu juga penting
untuk mengetahui sampai kapan kedua obat tersebut dihentikan. Apotek yang
memberikan informasi obat berupa waktu dan lama pemakaian berturut-turut adalah
31,1% (28 apotek) dan 17,8% (16 apotek). Jadi masih banyak apotek yang tidak
memberikan informasi tersebut.
6.4. Informasi Non Obat
Informasi
non obat penting dilakukan untuk menunjang keberhasilan terapi. Informasi non
obat dalam penelitian ini terdiri dari tiga indikator, yaitu makanan, cairan
elektrolit, dan pola hidup.
Sebanyak
7% apotek memberikan informasi non obat. Hasil ini sangat rendah menimbang pada
kasus diare tersebut perlu pemberian informasi non obat terkait pasien yang
dihadapi adalah lanjut usia dan juga penyebab diare adalah keracunan makanan
pedas.
Beberapa makanan tidak tepat diberikan
jika sifatnya mengiritasi saluran gastrointestinal atau jika makanan itu adalah
penyebab diare (Dipiro, 2008). Selain obat, makanan juga menentukan
keberhasilan terapi. Pada skenario kasus ini diare pasien kemungkinan disebabkan
keracunan oleh makanan pedas, sehingga sangat penting juga untuk menentukan terapi
non obat yang sebaiknya diberikan kepada pasien. Namun kenyataannya dari 90
apotek hanya satu apotek yang memberikan informasi terkait makanan.
Pasien dalam kasus ini adalah lanjut
usia. Lanjut usia mempunyai kemungkinan tinggi terjadinya dehidrasi dan dapat
membahayakan keadaan pasien. Pemberian cairan elektrolit dalam kasus ini sangat
penting pada pasien lanjut usia (Dipiro, 2008). Pemberian informasi non obat
berupa cairan elektrolit hanya terdapat pada lima apotek (5,6%). Dari lima
apotek tersebut, tiga diantaranya langsung merekomendasikan pemberian oral rehydration solution tanpa
pemberian informasi cara pembuatannya. Dua apotek lainnya memberikan informasi
berupa oral rehydration solution
serta pembuatan larutan gula dan garam. Informasi pembuatan larutan gula dan
garam tersebut kurang tepat diberikan mengingat oral rehydration solution yang dibutuhkan tubuh karena dehidrasi
akibat diare tersebut mempunyai komposisi tertentu yang sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Ini menunjukkan rendahnya pemahaman atau kurang tanggapnya petugas
apotek terhadap pasien dengan kasus diare pada lanjut usia dan juga disebabkan
oleh patient assessment yang kurang
lengkap.
BAB VII
KESIMPULAN
DAN SARAN
7.1.
Kesimpulan
Dalam penelitian ini rata-rata patient assessment yang dilakukan oleh petugas apotek kurang
lengkap dan informasi yang seharusnya digali dari pasien tidak dilakukan. Patient assessment yang kurang tepat dan
kurang lengkap berimplementasi pada pemberian rekomendasi, informasi obat, dan
non obat yang kurang tepat dan kurang lengkap pula.
Dilihat dari data penelitian yang didapat, semua
apotek merekomendasikan pemberian obat dan satu apotek yang memberikan saran
berupa rujukan ke dokter jika sampai hari berikutnya diare pasien belum sembuh.
Dalam kasus ini rekomendasi obat adalah tepat karena keadaan diare pasien masih
dalam kondisi ringan sehingga belum perlu dilakukan rujukan ke dokter. Namun
pemilihan obat sebagai sarana terapi pada pelayanan kefarmasian tanpa resep
banyak yang kurang tepat, karena pada kasus ini pasien menderita diare
kemungkinan besar disebabkan oleh keracunan tetapi banyak apotek yang
memberikan obat keras dan juga antibiotik yang harus diberikan dengan resep dokter.
Terapi yang paling tepat dan efektif adalah adsorben.
Banyak apotek yang sangat kurang dalam pemberian
informasi obat. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan petugas apotek
terkait obat dan juga kemungkinan banyak petugas apotek yang berasal bukan dari
bidang kefarmasian. Profesionalisme pelayanan terkait informasi obat kurang
terpenuhi. Inilah yang menyebabkan terjadinya kesalahan dan kurang tepatnya
pemakaian suatu obat sehingga terapi yang diinginkan tidak tercapai secara
optimal.
Dari data yang diperoleh menunjukkan rendahnya
informasi non obat yang diberikan petugas apotek, salah satunya disebabkan dari
kurang lengkapnya informasi yang dikumpulkan dari pasien pada saat patient assessment.
Secara umum pelayanan kefarmasian tanpa resep di apotek
wilayah Surabaya dengan kasus diare pada lanjut usia adalah masih jauh di bawah
standar pelayanan kefarmasian di apotek.
7.2. Saran
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian
tanpa resep di apotek, diperlukan :
1. Adanya
intervensi dari pemerintah, sebagai
contoh pemerintah/instansi kefarmasian sebagai kontrol pelayanan kefarmasian di
apotek.
2. Upaya
dari pihak apotek untuk lebih mengutamakan kualitas pelayanannya sehingga
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap apotek sebagai tujuan pengobatan semakin
tinggi.
3. Dibuat
undang-undang yang ketat dengan diberlakukannya sanksi terhadap apotek-apotek
yang melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Blenkinsopp, A., dan Paxton, P., 2002. Syptoms in The Pharmacy A Guide
to The Management of Common Illness. Malden: Blackwell Publishing.
Chua, S.S., Ramachandran, C.D., dan Paraidathathu,
T.T., 2006. Response of community pharmacists to the presentation
of back pain : a simulated patient study. The International Journal of Pharmacy
Practice, p. 171-178.
Cipolle, R.J., Strand, L.M., dan Morley, P.C., 1988. Pharmaceutical
Care Practice: Mc Graw Hill.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002. Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Tentang Pedoman P2D. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004. Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006. Pedoman
Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Pemerintah Republik
Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009a. Profil
Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009b. Sistem
Kesehatan Nasional. Jakarta.
Dipiro, J.T., dkk., 2008. Constipation, Diarrhea, and
Irritable Bowel Syndrom. Pharmacotherapy Principles & Practice: Mc Graw Hill, p. 311-316.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, 2008. Informasi
Spesialite Obat Indonesia Vol. 43. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan, p.
379-385.
Indriyanti, 2009, Hubungan Pengetahuan Orang Tua
Dengan Tindakan Swamedikasi Batuk Pada Anak Balitanya Di Wilayah Wonogiri,
http://etd.eprints.ums.ac.id/5835/,
13 Nopember 2010.
Lynn, M.R., 1986. Determination and Quantification
Of Content Validity, vol. 35,
p. 382-386.
Nathan, A., 2002. Non-prescription Medicines, ed.
2. London: Pharmaceutical Press, p. 100-110.
Notoatmodjo, S., 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. ed. 3.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Pemerintah Republik Indonesia,
1998. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 Tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia.
Pemerintah Republik Indonesia, 2009a.
Peraturan
Pemerintah Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah
Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia, 2009b. Peraturan
Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta:
Pemerintah Republik Indonesia.
Purwadi, 2004. Analisis Kebijakan : Pengendalian
Harga Obat Melalui Kebijakan Obat Generik.
Purwanti, A., Harianto, dan Supardi S., 2004. Gambaran
Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi di Apotek DKI Jakarta Tahun 2003. Majalah
Ilmu Kefarmasian, No. 2, Vol. 1, p. 102-115.
Ruane, J.M.,2005. Essentials of Research Methods.
United Kingdom: Blackwell Publishing, p.62-63.
Singarimbun, M., dan Effendi, S., 1989. Metode
Penelitian Survai. ed. Revisi.
Jakarta: LP3ES.
Sugiyono, 2001, Metode
Penelitian Administrasi. Bandung: Cv. Alfabeta.
Watson, M.C., Norris, P., dan Granas, A.G., 2006. A
systematic review of the use of simulated patients and pharmacy practice
research. The International Journal of Pharmacy Practice, p.83-93.
Wibisono, R., 2009. Peranan Notaris Dalam Pembuatan
Akta Pendirian Perusahaan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wijayanti,
2008. Hubungan
Kondisi Fisik RTT Lansia Terhadap Kondisi Sosial Lansia. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan
Permukiman, No. 1, Vol.7.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Check List
PROFIL PELAYANAN KEFARMASIAN TANPA
RESEP
DI APOTEK WILAYAH SURABAYA
DENGAN KASUS DIARE PADA LANJUT USIA
Tanggal Pengambilan Data :
Jam Pengambilan Data :
Kode Apotek :
Patient assessment


1.
Siapa yang sakit/mengalami gejala-gejala diare ?


2.
Berapa usia yang sakit diare ?
3.

Apa gejala yang dialami pasien diare
?


-

Frekuensi BAB tidak normal


-

Nyeri perut


-

Perut kembung/mual/muntah


-

Konsistensi feses


-
Lainnya…………..
4.

Berapa lama pasien diare
mengalami sakit ?




Apa tindakan yang sudah diperbuat selama mengalami gejala diare ?
6.
Apa obat-obat lain yang sedang digunakan ?
Rekomendasi
![]() |
![]() |
- Apakah berupa rujukan ?
![]() |
![]() |
8.
Apakah berupa rekomendasi obat ?
![]() |
![]() |
-
Keterlibatan pasien dalam menentukan obat.
-
Nama obat……………..
-
Harga …………….
-
Jenis obat………..
-
Golongan obat …………..
Informasi obat


- Indikasi ............................................
![]() |
![]() |
10. Kontraindikasi ............................................
![]() |
![]() |
11. Efek
samping ……………………………
![]() |
![]() |
12. Cara
pemakaian ...........................................
![]() |
![]() |
13. Dosis
……………………………



14. Waktu
pemakaian ……………………………
![]() |
15.
Lama pemakaian ……………………………

![]() |
![]() |
16. Perhatian …………………………….
![]() |
![]() |
17. Terlupa
minum obat …………………………….
18. 
Cara penyimpanan …………………………….


![]() |
![]() |
19. Cara
perlakuan sisa obat …………………………….
![]() |
![]() |
20. Identifikasi
obat yang rusak …………………………….
Informasi non-obat
![]() |
![]() |
- Makanan ……………………………
![]() |
![]() |
22. Cairan
…………………..
![]() |
![]() |
23. Pola
hidup ……………………………
![]() |
![]() |
- Lain-lain……………
Keterangan
*menunjukkan jika menggunakan
pancingan terlebih dahulu
Lampiran 2. Daftar Apotek Sampel
Tabel Daftar Apotek Sampel
KODE
|
NAMA
APOTEK
|
ALAMAT
|
1.
|
ADINDA
|
Rungkut Menanggal Harapan
U-6
|
2.
|
AGRIPA
|
Pucang Anom 26
|
3.
|
ALQI
|
Tanah Merah Utara 144
|
4.
|
AMELIA
|
Pucang Anom Timur 16
|
5.
|
ASRI FARMA
|
Dharmahusada 164
|
6.
|
BRAIN KLINIK
|
Sulawesi 63
|
7.
|
BRATANG
|
Bratang Gede 78
|
8.
|
BUHARI
|
Darmo Indah Sari EE-22
|
9.
|
BUMY AMCA II
|
Tambah Rejo 114
|
10.
|
CANDI MAS
|
Simo Gunun g Barat tol 11
No. 60
|
11.
|
CENTRO
|
Wonorungkut Utara RK 86
|
12.
|
CENTURY
|
Pakuwon Trade Centre
|
13.
|
CHE-CHE
|
Lidah Wetan
|
14.
|
CITRA 1
|
Ketintang 156
|
15.
|
CnC
|
Pacuan Kuda 27
|
16.
|
EDI
|
Pasar Kembang 114
|
17.
|
ELVEKA FARMA
|
Kebonsari Elveka II 26-28
|
18.
|
EMMY FARMA
|
Dukuh Menanggal 19
|
19.
|
ENGGAL WARAS
|
SMEA 25
|
20.
|
ESTI FARMA
|
Kertajaya Indah Tengah 27
|
21.
|
EXPRESS
|
Raya Semolowaru 1/2
|
22.
|
GARUDA INTI FARMA
|
Songoyudan 28
|
23.
|
GRAHA TATA (GRAHA FARMA)
|
Raya Bukit Darmo Golf R-07
|
24.
|
HIKMAH MEDIKA
|
Kedung Cowek 182
|
25.
|
IBUNDA
|
K.H. Mas Mansyur 201
|
26.
|
INDAH FARMA 2
|
Simpang Darmo Permai
Selatan 22
|
27.
|
K-24
|
Raya Tandes Lor No. 22B
|
28.
|
KANA FARMA
|
Klampis Jaya 31S Ruko
Klampis 88/B-18
|
29.
|
KENCANA
|
Sidotopo Wetan 5/24
|
30.
|
KENDUNG FARMA
|
Raya Kendung RT 3/RW 3 No.
76
|
31.
|
KENJERAN
|
Raya Mulyosari 210
|
32.
|
KHRISTA (CV. KUSUMA)
|
Kupang Indah VIII/24
|
33.
|
KIMIA FARMA 25
|
Raya Darmo 2-4
|
34.
|
KIMIA FARMA 52
|
Raya Dukuh Kupang 54
|
35.
|
KIMIA FARMA 166
|
Ahmad Yani 228
|
36.
|
KIMIA FARMA 243
|
Raya Arjuno 151
|
37.
|
KUSUMA
|
Kusuma Bangsa 49
|
38.
|
LANCAR
|
Simpang Darmo Permai Utara
29
|
39.
|
MARISA
|
Pandegiling 258
|
40.
|
MARLIDA
|
Balongsari Tama Tengah VIII
A/6
|
41.
|
MERCURY
|
Griya Kebraon Selatan
IX/Blok FA 41
|
42
|
METROFARMA
|
Undaan Wetan 60A
|
43.
|
MITRA BARAT
|
Raya Kendung 49B
|
44.
|
MITRA JAYA 2
|
Griya Kebraon Selatan A-11B
|
45.
|
MONICA FARMA
|
Kedung Cowek 69
|
46.
|
MUGI WARAS
|
Darmo Trade Centre LDA
B-777
|
47.
|
MUJIZAT
|
Manyar Kertoadi 37
|
48.
|
MUJUR
|
Pucang Adi 33
|
49.
|
MUSTIKA JAYA I
|
K.H. Mas Mansyur 142
|
50.
|
NOVEM
|
Tidar 234
|
51.
|
NUSANTARA
|
Undaan Kulon 109
|
52.
|
OKEY FARMA
|
Ngagel Rejo Kidul 81
|
53.
|
PACAR KELING
|
Pacar Keling 18
|
54.
|
PAMENANG
|
Darmo Permai Selatan 1/4
|
55.
|
PANGESTU
|
Jetis Baru 5
|
56.
|
PHILIA
|
Baruk Utara XV/ND 113
|
57.
|
POLI FARMA 61
|
W.R. Supratman 61
|
58.
|
POZ PRIMA
|
Mulyosari 168 A
|
59.
|
PRIMA ANUGRAH
|
Tandes Lor IA/7A
|
60.
|
PUCANG ADI
|
Pucang Adi 70
|
61.
|
PUSPASARI
|
Raya Menganti 19
|
62.
|
RATNA
|
Kedung Cowek 66
|
63.
|
SALEM FARMA
|
Ngagel Rejo Utara 35
|
64.
|
SATYA FARMA
|
Diponegoro 97
|
65.
|
SELARAS
|
Nginden Semolo 7
|
66.
|
SEMBILAN
|
Ruko Taman Gapura Blok B/8
|
67.
|
SEMEMI
|
Raya Sememi Blok I/VII
|
68.
|
SENANG
|
Pecindilan 8
|
69.
|
SENDY
|
Menganti Gemol 122
|
70.
|
SERAYU
|
Ronggowarsito 3
|
71.
|
SHINTA FARMA
|
Manukan Tama Blok III-I/15
|
72.
|
SIAGA FARMA
|
Parangkusumo 2
|
73.
|
SIP 2
|
Dharmahusada Indah Timur
No. 8
|
74.
|
SRIWIJAYA
|
Bratang Binangun 31
|
75.
|
STEVEN 2
|
Petemon Barat 205
|
76.
|
SUKOMANUNGGAL
|
Sukomanunggal Jaya I No. 42
|
77.
|
SUKSES
|
Ruko Taman Gapura No. F12
Citraland
|
78.
|
SUPER FARMA
|
Kedung Cowek 58
|
79.
|
SURYA MEDITAMA
|
Raya Manukan Tama No.
197-199
|
80.
|
TIGA DUA LIMA
|
Demak 325
|
81.
|
TRIJAYA ABADI
|
Barata Jaya 19/48A
|
82.
|
TRISULA FARMA
|
Raya Manukan Tengah 10A No.
11
|
83.
|
ULIF FARMA
|
Simohilir Timur Raya 2-F
No. 16
|
84.
|
VITO
|
Mulyosari PB 17 No. 140
|
85.
|
WALUYO
|
Bendul Merisi 6
|
86.
|
WIDYA FARMA
|
Kampung Malang Tengah I/7
|
87.
|
WIJAYA KUSUMA
|
Ahmad Yani 252
|
88.
|
YANI MULYA FARMA
|
Ahmad Yani 243
|
89.
|
ZAHIRA
|
Semolowaru Utara V No. 3
|
90.
|
ZEVI
|
Raya Dukuh Kupang 120
|
monggo dikomen Pak Lik.. Bu Lik..
skripsi Lik...
BalasHapusms.mau tanya boleh
BalasHapus